AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

"Pemanfaatan Lahan Kosong Di Sekolah"

 

1.      LATAR BELAKANG

Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Namun, dalam praktek nya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan karena diperlukan perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah.

Meskipun terkesan sulit untuk dilaksanakan, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang mustahil. Untuk dapat melaksanakannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat gradual. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru penggerak hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di bawah pengaruhnya untuk menjalani proses bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niat belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah.

Salah satu upaya dalam melakukan perubahan secara organisasi adalah dengan menerapkan konsep INKUIRI APRESIATIF (IA). Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Dalam sebuah video di Youtube, Cooperrider menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa.

INKUIRI APRESIATIF (IA) menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasi nya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. 

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan Akan meningkat dan kemudian organisasi Akan berkembang secara berkelanjutan. Dalam video tersebut, Cooperider juga menceritakan bahwa pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker, seorang Begawan dalam dunia kepemimpinan dan manajemen. Menurut Drucker, kepemimpinan dan manajemen adalah keabadian. Oleh sebab itu seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang dimiliki organisasi. Caranya adalah dengan mengupayakan agar kelemahan suatu sistem dalam organisasi menjadi tidak relevan, karena semua aspek dalam organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan, dengan satu tujuan yaitu mengatasi kelemahan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik yang telah ada di sekolah, mencari Cara agar bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidakadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif tersebut, sekolah kemudian menyelaraskan hal positif atau kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas sekolah.

Berdasarkan latar belakang di atas, sebagai seorang Calon Guru penggerak, saya  merancang tindakan Aksi nyata “Pemanfaatan Lahan Kosong Di sekolah” yang juga merupakan Visi Sekolah SMP Negeri 3 Satu Atap Pangkalan Susu yakni mewujudkan siswa yang berprestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berlandaskan iman dan taqwa serta berwawasan lingkungan. Berdasarkan visi tersebut sebagai calon guru penggerak, saya ingin melakukan aksi nyata memanfaatkan lahan kosong di Sekolah bersama dengan murid agar menumbuhkan karakter cinta lingkungan serta gotong royong melalui kerjasama menciptakan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan.

  2.     Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan dari aksi nyata ini adalah sebagai berikut:

1.       Menumbuhkan wawasan lingkungan dengan memanfaatkan lahan kosong di sekolah.

2.      Warga sekolah mampu melestarikan lingkungan sekitar sekolah agar menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi murid.

3.      Dengan kegiatan ini, diharapkan akan terjalin kerjasama yang baik dengan ekosistem sekolah.

 4.     Kegiatan Aksi Nyata

Berikut adalah Linimasa tindakan yang dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai yang di anjurkan oleh pemerintah.

1.       Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan melaksanakan sosialisasi kepada warga sekolah meliputi murid serta wali kelas mengenai kegiatan pemanfaatan lahan kosong. Kegiatan ini juga telah mendapat ijin dan dukungan dari Kepala Sekolah. Untuk melaksanakan kegiatan, diperlukan adanya komitmen agar kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Terdapat kesepakatan antara guru dan murid berkaitan dengan alat dan bahan yang perlu dipersiapkan oleh murid dan guru.

2.      Kegiatan pada hari kedua adalah guru beserta murid membersihkan lahan kosong yang ada di lingkungan sekolah untuk dijadikan tempat kegiatan aksi nyata ini. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan serta menerapkan sistem shifting

3.      Selanjutnya, Kegiatan pada hari ketiga adalah menanam tanaman di lahan yang telah dibersihkan sebelumnya serta menata semenarik mungkin. Sama seperti pada hari kedua, kegiatan hari ketiga ini juga tetap meneppakan dan mematuhi protokol kesehatan.

4.      Kegiatan pada hari keempat dan seterusnya adalah merawat tanaman yang telah ditanam agar dapat tumbuh dengan baik. Kegiatan dilakukan secara kolaboratif antara Guru dengan murid serta warga sekolah.

5.     Hasil dari Aksi Nyata

Seperti yang telah di jelaskan di atas, kegiatan aksi nyata ini dimulai dengan mensosialisasikan kegiatan ini kepada para warga sekolah seperti wali kelas 8. Hal in bertujuan agar memperoleh persamaan persepsi mengenai kegiatan aksi nyata yang akan saya laksanakan. Kegiatan ini telah sesuai dengan modul 1.3 tentang “Visi Guru Penggerak” yakni Pemanfaatan Lahan Kosong di sekolah untuk di tanami tanaman yang berguna bagi kehidupan sekaligus memberikan pengetahuan kepada murid. Untuk memperolh hasil yang maksimal, kegiatan ini membutuhkan kolaborasi yang baik dengan komunitas sekolah,sehingga saya juga melaksanakan sosialisasi kepada murid agar dapat ikut ambil bagian dari kegiatan ini. Pada kegiatan ini, saya juga mengajak kepada murid yang selama ini kurang aktif dalam pembelajaran untuk ikut serta. Hasilnya adalah mereka memberikan respon yang positif serta bersedia terlibat. Bentuk keterlibatannya adalah dengan membawakan bibit tanaman-tanaman obat keluarga (TOGA) seperti: kunyit, jahe, kencur, lengkuas, serai dan bibit tanaman jeruk.

Keesokan harinya, para murid membawa bahan-bahan tanaman lainnya serta tanah kompos. Beberapa siswa ambil bagian dengan menyediakan perlatan seperti cangkul untuk membersihkan lahan yang akan di tanami dan menanam tanaman. Beberapa siswa juga membawa bambu sebagai penanda nama tanaman.  Kegiatan dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan dan menggunakan sistem shifting (jadwal).

Pada hari berikutnya, setelah setelah sebelumnya lahan dibersihkan, para guru dan siswa melakukan penanaman tanaman obat keluarga (TOGA). Selanjutnya adalah Saya dan murid melakukan kesepakatan bersama dengan membuat jadwal untuk merawat tanaman tersebut dengan secara bergantian. Jadwal tersebut diatur oleh siswa. Siswa yang bertugas akan hadir bersamaan dengan jadwal luring mereka yaitu satu kali dalam seminggu. Kegiatan pada hari berikutnya adalah kegiatan perawatan dengan menyiram dan membersihkan rumput yang mulai sudah tumbuh dikarenakan libur akhir semester pada 20 desember 2020 sampai dengan 04 januari 2021, tanaman ini saat ini sudah mulai berkembang dengan umur tanaman kurang lebih 1,5 bulan dari masa mulai ditanam.


6.     Keberhasilan dan Kegagalan

Keberhasilan :

Kegiatan aksi nyata ini telah memberikan pengalaman baru bagi murid agar mampu berkolaborasi dengan teman lainnya serta dapat melakukan kegiatan secara langsung di sekolah. Dari wawancara yang saya lakukan kepada peserta kegiatan ini, sebagian dari mereka pernah melakukan kegiatan ini di pekarangan rumahnya namun kegiatan ini telah memberikan makna dan pengalaman yang berbeda dalam dirinya karena dilaksanakan secara kolaborasi (bersama) dengan teman – teman dan gurunya. Menurut pendapat saya, kegiatan ini berhasil terlihat dari semangat dan antusias murid dan guru untuk ikut serta dalam kegiatan ini.

 Kegagalan :

Kegiatan aksi nyata ini berjalan dengan baik sehingga menurut saya berhasil. Namun masih ada beberapa hal yang perlu di tingkatkan. Salah satu hal yang saya tingkatkan adalah perlu adanya upaya yang lebih dalam menumbuhkan kesadaran akan peduli lingkungan. Hal ini saya pandang perlu untuk ditingkatkan bersama semua komunitas sekolah agar terjaga lebih baik serta mampu menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan nyaman. Hal lainnya yang terjadi adalah dikarenakan libur akhir semester selama kurang lebih 2 minggu menimbulkan banyak tumbuh rumput liar yang merusak pemandangan di sekolah termasuk tanaman obat keluarga tadi jadi memang perlu pemeliharaan yang berkesinambungan.

7.     Rencana Perbaikan

Perlunya perbaikan strategi penumbuhan budaya positif untuk pentingnya peduli lingkungan yang tumbuh dari impian bersama yakni harus dilakukan secara berkesinambungan agar melekat didalam diri semua warga sekolah dan menjadi budaya sekolah sesuai dengan pendekatan inkuiri apresiatif.

1.      Dokumentasi Kegiatan

Aksi Nyata

Aksi Nyata Guru Pengegrak

Aksi Nyata Guru Penggerak2

Dokumentasi Aksi Nyata

AKsi Nyata Penananman TIGA
https://youtu.be/2O_V4nKnvfM

Post a Comment

Newer Older